Saturday, December 29, 2007

Go Travel



WHO LIVES SEES MUCH, WHO TRAVELS SEES MORE (Ambar-IBP)


MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)

DAY 5 : Meninggalkan Jogja (Harmonisasi Ciptaan Tuhan)

Pukul 07.30 kereta Sancaka mulai bergerak menjauh dari stas. Tugu. Selamat tinggal Jogjakarta, pelajaran hidup yg berharga telah kauberikan kepadaku selama perjalanan kali ini. Harmonisasi dan keselarasan yg terjadi antara manusia dan alam merupakan misteri yang sebenarnya dibandingkan segala dongeng, kisah maupun mitos antara merapi – keraton – laut selatan. Dibalik ancaman yg timbul terdapat anugrah Tuhan bagi kita yg mampu memahami ciptanNya. Manusia selain mencintai Tuhan hendaknya mencintai ciptanNya berupa alam.Terlalu bodoh bagi kita yg mengatakan manusia harus menjaga alam. Sebaliknya alam menjaga dirinya sendiri dan alamlah yang menjaga kita. Apabila alam sudah merasa terancam oleh ulah manusia, maka kita tidak akan sanggup melawan murka alam. Siapakah yg dapat menghentikan batuan panas dan wedus gembel yg meluncur dari mulut merapi? Siapa pulakah yg sanggup menahan terjangan ombak laut selatan yang menggetarkan?

Itirenary Jogja :
20/12 : Stas. Gubeng – stas. Tugu
Angkringan
21/12 : City Tour of Jogjakarta, Keraton, Masjid Gede Kauman, Taman Sari
22/12 : Pantai Parangtritis, Prawirotaman
23/12 : Termn. Jombor, Ketep Pass, Candi Borobudur
24/12 : Stas. Tugu – Stas. Gubeng

Budget Price :
Taxi stas. Gubeng IDR 20.000
Kereta Sancaka sby-jogja PP IDR 120.000
Hotel @ Sosrowijayan IDR 210.000
3 pack of Marlboro Light IDR 30.000
Coffee Latte di via2cafe IDR 15.000
Angkringan(nasi kucing+kopi+sate) IDR 6.000
Theater @ Ketep Pass IDR 5.000
Tiket Borobudur IDR 10.000

BACKPACKING JOGJAKARTA : PRICELESS!!!

Thanks to:
Allah Swt, mom & dad, friends and all of Jogjakarta people for beautiful memories.

Tulisan ini dibuat menjelang detik2 terjadinya bencana longsor di Karanganyar dan sekitarnya. Semoga peringatan Tuhan tsb semakin menyadarkan seluruh umat manusia untuk tdk merusak alam.

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)


DAY 4 : Nafas Gunung Api Bumi Merapi

Dibalik ancaman letusannya, Gunung Merapi menyimpan keindahan yang tak terkira bagi siapa saja yang melihatnya. Cara terbaik untuk mengenal gunung ini sebenarnya dengan melakukan pendakian ke puncak Garuda yg berada di ketinggian 2948 mdpl. Namun kesempatan yang kudapatkan saat ini baru sekedar memandangnya dari pos pengamatan yg terletak di Ketep Pass. Tempat wisata yg diresmikan tahun 2002 ini memiliki fasilitas yg cukup lengkap untuik mengenal gunung Merapi. Di sana berdiri bangunan museum, theater yg bercerita tentang Merapi dan beberapa gardu pandang lengkap dengan teropong untuk melihat tubuh merapi.
Dari hotel naik bis kota nomor 5 turun di terminal Jombor. Dilanjutkan naik bis jurusan Magelang lalu turun di daerah Blabak untuk berganti dengan mobil angkutan menuju Sawangan. Dari Sawangan ini sudah menunggu angkot menuju Ketep Pass. Apabila perjalanan lancar tidak lebih dari 2 jam berangkat dari Malioboro kita sudah sampai di KetepPAss. Sebisa mungkin usahakan datang pada pagi hari agar view gunung merapi dapat terlihat jelas dan tidak terhalang kabut.
Kekagumanku akan gunung Merapi semakin bertambah ketika menyaksikan dokumentari letusan dahsyat Merapi. Sebuah ironi kehidupan tergambar nyata bagi warga sekitar lereng merapi. Batuan panas yg dimuntahkan dari perut merapi dan asap beracun yang keluar dari kawah (Wedhus Gembel) pada saat Gunung Merapi meletus tidak jarang memakan korban jiwa manusia. Namun setelah melewati masa erupsi dan merapi kembali normal, letusan tsb membawa berkah berupa tanah yg subur yg menjadi ladang pencaharian warga.Nafas merapi tidak lain adalah nafas kehidupan masyarakatnya. Sekali lagi bukti kebesaran Tuhan yg telah menganugerahkan alam bagi manusia.
Berbicara masalah kebesaran dan keagungan, tepat kiranya bila perjalanan aku akhiri di sebuah bangunan mahakarya agung yg pernah dibuat manusia. Candi Borobudur yg terletak tidak jauh dari KetepPass merupakan cerminan bangsa kita yg religius. Bangunan ini terasa special bila dibandingkan dengan bangunan sejenis seperti Piramida Mesir dan Great Wall China. Dilihat dari aspek sosiologis pembangunan Borobudur memiliki perbedaan dengan dua bangunan tsb. Piramida Mesir didirikan hanya untuk memfasilitasi Firaun dan harta2nya shg seolah manusia yg terlibat hanyalah budak penguasa yg dipaksa bekerja menuruti keinginan raja. Sementara tembok besar China tidak lain adalah system pertahanan negara dari suatu strategi militer semata, sebuah latar belakang yg pragmatis akibat suatu kondisi perang. Inilah yg menyebabkan Borobudur sebuah bangunan yg luar biasa karena didirikan sebagai bentuk pemujaan kepada Tuhannya sehingga nuansanya lebih kepada keikhlasan dibanding keterpaksaan.

Di Borobudur pula backpacking-ku di Jogja berakhir dengan perasaan senang telah mengenal lebih dekat masyarakat yang bersahabat dengan alam. Target yg belum kesampaian diantaranya wisata kuliner ala jalan sutranya Pak Bondan ke resto Omah Dhuwur dan Sekar Kedaton Anshor Silver mengingat terbatasnya budget kali ini hehehe(next time,I wish)

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)

DAY 3 : Menuju Selatan Menanti Ganasnya Ombak Laut Selatan

Diantara penantian menunggu tersajinya breakfast dari hotel sekitar pukul 07.00, aku pergunakan untuk bertanya seputar rute yg harus ditempuh untuk menuju pantai parangtritis. Ternyata tranportasi dari downtown jogja cukup mudah. Dari malioboro aku cuman perlu naik bis kota nomor 2 turun di Pojok Benteng Wetan. Disitu sudah menunggu bis yg langsung menuju pantai parangtritis. Satu2nya yg perlu diperhatikan hanya tranportasi umum tersebut hanya beroperasi sampai pukul 17.00. Sehingga kalau sampai kemalaman di pantai Parangtritis resiko terburuknya terpaksa menginap di sekitar pantai (yg jg tdk menjadi masalah krn di parangtritis tersedia cukup banyak penginapan seadanya).

Tepat pukul 07.30 aku sudah berada di dalam bis kota nomor 2 yg melaju pelan tapi pasti sesuai motto yg populer di Jawa “alon2 waton kelakon”. Ketika sedang menunggu berangkatnya bis yg akan mengantarku ke Parangtritis, kebetulan sekali aku bertemu sesama backpacker asal LubukLinggau Sumatera. Seorang pemuda berusia kurang lebih sebaya denganku yg bernama Satriya Atmanegara. Selama perjalanan kami saling berbagi cerita perjalanan masing2 sehingga perjalanan sejam terasa cukup singkat. Aku pun menawarkan join travelling selama satu hari ini mengingat rute kita yg sama. Dia jg mengundangku untuk berkunjung ke tempatnya bila suatu saat travelling di sekitar Palembang, Riau, Bengkulu dan sekitarnya (Soon ,I’ll be there. Just wait for that time).

Paris (sebutan orang Jogja bagi pantai parangtritis-red) ramai dikunjungi wisatawan local dari luar Jogja. Beberapa klub motor terlihat bergerombol disana sini menikmati angin pantai yg bertiup kencang. Berbeda dgn di Jogja yg cuacanya mendung, di Parangtritis matahari bersinar dengan cukup teriknya. Terlihat jelas gelombang air laut samudera Hindia yg terkenal ganas berkejaran tanpa henti. Beberapa ratus meter dari bibir pantai sisa2 gempa msh cukup jelas terlihat dari sisa2 bangunan yg tinggal menyisakan pondasinya saja. Pantai parangtritis yg dibatasi dinding tebing di tepinya seakan menjadi saksi bisu ketika gempa bumi yg cukup dashyat melanda Bantul dan sekitarnya. Gempa yg berkekuatan 6,3 skala ritcher bahkan mampu menjangkau keraton Jogja yg menyebabkan rusaknya beberapa bangunan indah keraton. Di tempat ini aku belajar bahwa keangkuhan manusia tidak ada apa2nya dibandingkan kekuatan alam. Manusia tidak akan pernah menang melawan alam. Teringat syair penuh makna yg kudengar pertama kali ketika awal2 menjadi penggiat olahraga alam bebas.
"Aku percaya bahwa alam beserta segala keindahannya merupakan sahabat yg paling baik bagi manusia. Aku percaya bahwasanya manusia tak pernah bisa mengalahkan alam. Oleh karena itu pecinta alam sejati hanya berusaha mengalahkan dirinya sendiri."


Dalam perjalanan kembali ke hotel aku sempatkan untuk mampir ke daerah prawirotaman. Nama jalan yg terkenal bagi kalangan hippies backpacker asing tahun 80-an ini menarik minatku untuk sekedar mengetahui lebih jauh. Info yg aku peroleh menyarankan untuk mendatangi sebuah café legendaris bagi kaum backpacker bernama via-via café Suasana di dalam café tersebut cukup comfy, tidak terlalu besar tapi style-nya yg bohemian membuat betah para pengunjung. Via-via café jg berdiri di beberapa negara lain seperti argentina, spain, senegal dll. Café ini menjunjung cita rasa daerah dimana dia berada, ini dimaksudkan agar nuansa asli daerah tidak berubah seiring datangnya kaum pendatang. Semboyannya cukup menggelitik “di via-via kita tdk akan menemukan satu cita rasa yg sama karena via-via adalah bukan Mc-Viavia”.

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)


DAY 2 : Mengagumi Keindahan Kraton dan Istana Taman Sari


Check in hotel sekitar pukul 6 pagi dilanjutkan dengan mencari sarapan untuk mengisi perut. Ngantuk masih menyerang akibat tidak nyenyaknya tidur semalam, maka kuputuskan untuk tidur sebentar sebelum mulai meng-explore jogja. Pukul 9.30 bangun dari tidur dengan kondisi badan yg cukup segar untuk memulai hari. Destinasi pertama adalah kraton jogja melalui jalur malioboro lewat alun2 utara. Berhubung hari Jumat maka sholat Jumat kutunaikan di masjid agung Kauman yg punya bangunan unik di dalam masjid tempat Sultan biasa sholat.


Selepas Sholat Jumat aku menuju Istana Taman Sari yg terkenal dengan Istana airnya, dari Masjid Kauman sebenarnya lumayan jauh bila ditempuh dengan jalan kaki namun karena Jogja sedang mendung bahkan hujan turun rintik2 maka tak menjadi mslh jalan kaki melalui Pasar Ngasem menuju Taman Sari. Taman Sari terletak persis di belakang pasar Ngasem, bangunan tua seluas 10ha terdiri dari kolam pemandian dan istana air. Disinilah tempat rekreasi Sultan sambil menyaksikan para selir menari dari atas bangunan. Arsitektur taman sari cukup menarik karena mengandung banyak filosofi Jawa di dalamnya. Ada bangunan yg menggambarkan agama2 di Jawa, bahkan konon symbol burung Garuda terdapat di relief bangunan ini. Aku juga baru tahu bahwa burung garuda tunggangan dewa “wisnu” dalam filosofi Jawa melambangkan Loyalitas. Selain itu bagi yg blm tahu burung “derkuku” yg sering dipelihara Sultan ternyata juga bukan hanya sekedar binatang piaraan. Burung tsb symbol kemakmuran rakyat krn burung ini sering berada di tengah2 tanaman padi sehingga bila masih terdapat burung ini berarti masy. masih bisa memanen padinya.

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)

DAY 1 : Merasakan Dinginnya Bangku Stas. Tugu


Berangkat tepat saat perayaan Idul Adha membuatku tidak bisa menikmati masakan daging kurban pada Idul Adha tahun ini, berganti dgn sensasi menjadi seorang Lonely Backpacker menjelajah Jogja. Sekitar pukul 3 sore kereta Sancaka tepat meninggalkan stas. Gubeng menuju Stas. Tugu dengan jarak tempuh sekitar 300 km yg memerlukan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Kondisi stasiun antara Surabaya hingga Jogjakarta terlihat ramai mengingat saat ini awal dari libur akhir tahun yg cukup panjang. Kereta hanya berhenti di stas. Kertosono - Madiun – Solo dan Jogjakarta. Sehingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.30 ketika memasuki stas.Tugu Jogja.


Turun dari kereta aku langsung menuju utara stas. Tugu yg terkenal dengan angkringan Mbah Man dan Mas No’ yg tersohor di kalangan kaum muda Jogja. Segelas kopi jos (kopi hitam dgn tambahan arang panas membara) menjadi semacam welcome drink di Jogja yg terasa dingin akibat baru saja diguyur hujan. Untuk makan malam dua bungkus nasi kucing beserta jajanan pendampingnya sudah cukup mengenyangkan perut ini. Cerita Mbah Man tentang kunjungan seorang jenderal asli Jogja beberapa menit yg lalu sedikit menggambarkan karakter masy. Jogja yg humanis. Jarang ada petinggi negara bersedia mampir ke tempat sederhana yg hanya menyediakan alas tikar dengan mak./min. seadanya, salah satunya bisa kita temui klo berkunjung di jogja.

Rencana awal dari angkringan langsung hunting hotel di sekitar sosrowijayan yg terkenal dengan hotel backpackernya yg cukup beragam. Namun hujan deras keburu mengguyur jogja malam itu, menjadikan acara hunting hotel terpaksa di cancel mengingat penderitaan yg terbayang ketika harus keluar masuk hotel di tengah hujan deras mencari kamar di saat peak season seperti ini. Sempat berpikir dua kali (krn teringat seorang teman yg harus merelakan tas ranselnya raib saat tertidur di stas.ini beberapa tahun yg lalu) ketika akhirnya memutuskan bermalam di stas. Tugu. Kondisi stas. yg tidak terlalu ramai ketika tengah malam itu justru menjadikan acara berbaring di bangku stasiun tidak cukup menggangu pengguna jasa yg lain. Diantara penumpang kereta yg akan pergi maupun baru datang di Jogja, seorang lonely backpacker berbaring seorang diri berteman bangku stasiun yg semakin terasa dingin dan sunyi menunggu datangnya pagi untuk memulai hari2 petualangannya.

Labels: ,

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)


OPENING STORY

Jogjakarta selalu menyimpan seribu pesona. Sebagai garda depan penjaga tradisi kebudayaan Jawa, kota ini selalu menarik untuk dijadikan tempat menggali dan menyelami nilai2 tradisional masyarakat Jawa. Bagi anda yg sehari-hari cenderung mempunyai gaya hidup modern di era globalisasi yg serba instan dan mengedepankan individualisme serta materialisme, Jogjakarta bisa dijadikan tempat olah jasmani maupun rekreasi spiritual yg tepat. Walaupun modernitas sudah merambah Jogja namun aku yakin tak akan mampu menggeser nilai2 luhur dan budaya yang telah merasuki jiwa masyarakatnya.

Satu hal yang menarik dari Jogja adalah kepercayaan sebagian besar masyarakatnya terhadap 3 ikon penting yakni (Gunung Merapi di utara, keraton Ngayogyakartahadiningrat di pusat kota serta Laut Selatan di Selatan Jogja). Tidak banyak dari kita mengetahui hubungan diantara ketiga tempat tersebut. Kisah yang beredar di masy. bercerita bahwa ketiga tempat yang dapat ditarik garis lurus dipeta tsb. terkait erat satu sama lain. Keraton sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal Sultan merupakan bangunan megah yang merupakan lambang kebesaran kerajaan Jawa yang tinggi nilai seninya. Di bagian selatan kita mengenal mitos penguasa ratu pantai selatan (nyi roro kidul) yang dipercaya sebagian orang merupakan permaisuri dari salah satu raja Mataram Panembahan Senopati. Berkat hubungan historis yang erat dengan Kraton Jogja, sampai sekarang, di hari-hari tertentu, yang dinamakan Suro pada penanggalan Jawa, kerap dilakukan labuhan untuk menghormati Nyai Roro Kidul baik oleh Kraton Jogja maupun masyarakat sekitar.
Gunung Merapi pun tak kalah menyimpan misteri. Warga meyakini, Gunung Merapi dijaga oleh Kiai Sapujagad sebagai patih yang memang ditugaskan oleh keraton pada masa Panembahan Senopati. Sebenarnya semula Kiai Sapujagad bernama Ki Juru Taman. Karena ''melanggar'' titah Panembahan Senopati, akhirnya dia diminta berdiam di Merapi. Kabarnya gunung ini merupakan tempat makhluk halus berada. Tidak hanya satu-dua makhluk yang berdiam di sini, tapi memang pusatnya shg dipercaya di tempat inilah bersemayam makhluk halus penjaga kerajaan.

Perjalananku kali ini bermaksud mencari jawaban misteri di atas. Backpacking Jogja dimulai Kamis tgl 20 desember 07 dan berakhir Senin 24 desember 07.

Saturday, July 21, 2007

ASIAN CUP TOUR 2007 (part 4- back to MLG)

Sabtu. Rute yang sama kembali kami lalui siang itu yakni jalan tol cipularang yang dihiasi perbukitan di kanan kiri yg cukup mampu mengalihkan dari kondisi jalan yg tidak rata dan bergelombang di sana sini. Tujuan terakhir perjalanan kami bukanlah tempat yg menarik bagiku. Hari terakhir backpacking kami selama hampir seminggu adalah di perumahan kawasan Bekasi yg hanya berjarak beberapa Km dari Mall Bekasi. Namun apa daya teman perjalananku ngebet pingin mampir ke rumah saudaranya. Kami hanya sempet jalan2 sebentar di malam hari sambil makan malam bareng keluarga yg baru ku kenal tsb (lumayan makan gratis di Solaria yg tdk msk kelas backpacker seperti aku hehe).

Minggu pagi kami diantar ke stasiun gambir untuk membeli tiket kepulangan menuju malang sore harinya. Akhirnya kami merasakan kereta yg mendahului kami di stas. Blitar pd saat keberangkatan kmarin. Kereta api Eksekutif Gajayana meninggalkan Gambir sekitar pukul 17.00 ,ternyata kami tidak ada bedanya dengan penumpang lain yg tertawa begitu saja ketika di tiap persimpangan harus mendahului kereta ekonomi yg berjalan lambat untuk mengalah memberi jalan bagi kereta kami yg lebih mahal untuk tiba di tujuan lebih cepat. Seperti inikah realita hidup di jaman modern??Yang kuat menindas yang lemah,yang lemah harus dikalahkan. Tergetar hati ini bila mengingat bahwa Tuhan Maha Adil. Bila saat itu tiba kaum yg lemah menjadi kuat sanggupkah kita menerima kenyataan menjadi kaum yg tertindas..

Summary : Malang - Stas. Senen – Jakarta Utara - Ciputat (rmh Ichsan) - Stadion Gelora Bung Karno – Bandung - Bekasi – Malang.
 see photos at http:atanir.multiply.com

Friday, July 20, 2007

ASIAN CUP TOUR 2007 (via Bandung)

Pagi setelah packing aku dan Ritno berangkat ke term. Lebal Bulus untuk naik Bis Primajasa jur. Bandung. Ichsan tdk jadi ikut kami ke Bandung krn hrs pergi bareng keluarganya ke Solo. Sesampainya di term. Leuwipanjang kami dijemput tour guide dadakan kami yang orang Jember asli yg sedang kuliah di STT TELKOM. Kami sampai di guesthouse menjelang magrib, dan setelah mandi untuk menyegarkan badan, acara kami selanjutnya nongkrong di seputaran STT TELKOM maka dimulailah petualangan kami di Bandung.

Tidak terasa sudah hari Jumat 20 Juli 07. Pagi hari kami sudah bersiap-siap travelling Bandung seharian penuh mengingat jadwal kami di Bandung hanya sampai esok pagi karena siangnya kami harus menuju Bekasi destinasi kami berikutnya. Spot pertama Pasar Gede Bage yg terkenal dgn pakaian murahnya, lumayan dapat jacket dgn harga miring. Dari Gedebage kami menuju Bandung indah plaza (ungkapan :klo ingin mengenal masy. suatu daerah datanglah ke pasar, disitulah interaksi masy. terjadi) namun ini bandung, tidak ada tempat untuk mengenal lebih dekat masy. Bandung selain di Mall-nya ha3x..Sore kembali ke kamar untuk berganti pakaian, setelah mendapat pinjaman sepeda motor kami tancap gas menuju Lembang lewat Setiabudi. Jalur menuju Lembang mengingatkan Aku akan jalur menuju Batu. Dingin, penuh tanjakan dengan pemandangan menawan di kanan kiri jalan. Puas menikmati hawa dingin yg menusuk tulang kami kembali turun ke Bandung. Dan malam terakhir di Bandung kami habiskan dengan city tour mulai Asia Afrika-Ciwalk-Gedung Sate dan berakhir dengan minum Bajigur di jalan Dago. Malam yg penuh kenangan di bandung……..

Labels:

Wednesday, July 18, 2007

ASIAN CUP TOUR 2007 (part 2)

Rabu, 18 Juli 2007 tujuan utama perjalanan kami. Tepat pukul 17.20 WIB tim nasional Indonesia berhadapan dengan Timnas Korea Selatan ( macan Asia yg mengalahkan Italia pada Piala Dunia 2002). Pukul 08.00 kami berpamitan dengan tuan rumah krn meski pertandingan dimulai sore hari, kami harus menuju rumah Ichsan untuk berangkat bersama ke stadion Gelora Bung Karno. Beruntung tiket pertandingan sudah kami pesan sejak beberapa minggu sblm pertandingan krn menurut kabar hari ini tiket sold out. Antusiasme yg wajar mengingat Indonesia berpeluang lolos bila berhasil mengalahkan Korsel atau minimal menahan seri. Perjalanan ke Ciputat memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan menggunakan biskota. Ngobrol sebentar dilanjutkan makan siang dan meluncurlah kami ber-6 (3 orang yg lain kawan rumah Ichsan yg membuat kami seperti supporter Indonesia korwil Ciputat, bendera, syal dan tidak lupa kostum yg msh baru yg sdh disiapin Ichsan menemani kami konvoi menuju stadion).

Stadion Gelora Bung Karno seakan sudah tidak sabar menyambut puluhan ribu supporter Ind. Yg tidak sabar memberi dukungan bagi tim Garuda. 1 jam sebelum petandingan dimulai tribun sudah hampir terisi oleh puluhan ribu supporter yg berasal dari seluruh nusantara. Entah yg berdomisili di Jkt (mengingat Jkt warganya berasal dari penjuru Indonesia) maupun yg khusus datang seperti kami. Kick off tepat pukul 17.20 Wib. Optimisme jutaan rakyat Ind. sempat muncul ketika timnas dengan modal spirit tinggi mampu meladeni permainan Korsel yg unggul teknik maupun skill individu. Namun sayangnya menjelang berakhir babak I gawang timnas kebobolan oleh pemain Korsel. Setelah turun minum sebagian supporter msh berharap timans Ind. mampu menyamakan kedudukan di babak II. Namun gol itu tak kunjung datang dan akhirnya timnas Ind. harus mengakui keunggulan timnas Korsel dan kalah dengan skor 1-0. Tapi perjuangan timnas yg pantang menyerah dan semangat tak mau kalah oleh tim yg lebih diunggulkan membuat bangga puluhan bahkan ratusan juta rakyat Indonesia. Tak kurang Pres. SBY turun langsung setelah pertandingan menyalami semua pemain timnas untuk menunjukkan dukungan dan rasa bangga. “Tim ini mempunyai masa depan yg baik” tulis banyak harian local selepas piala Asia. Semoga performa timnas ind. tetap seperti ini klo bisa semakin membaik hingga harapan seluruh masy. Indonesia menyaksikan timnas berlaga di Piala Dunia dapat terwujud (dan semoga aku masih cukup kuat mendukung timnas ketika saat itu tiba). Kalah, lelah namun puas itulah yg kualami setelah meninggalkan stadion menuju rumah Ichsan untuk bermalam. Sepiring nasi goreng andalan warga Ciputat menjadi makan malam kami sebelum akhirnya kembali ke peraduan.



<!-- End #content -->