MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)
DAY 1 : Merasakan Dinginnya Bangku Stas. Tugu

Berangkat tepat saat perayaan Idul Adha membuatku tidak bisa menikmati masakan daging kurban pada Idul Adha tahun ini, berganti dgn sensasi menjadi seorang Lonely Backpacker menjelajah Jogja. Sekitar pukul 3 sore kereta Sancaka tepat meninggalkan stas. Gubeng menuju Stas. Tugu dengan jarak tempuh sekitar 300 km yg memerlukan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Kondisi stasiun antara Surabaya hingga Jogjakarta terlihat ramai mengingat saat ini awal dari libur akhir tahun yg cukup panjang. Kereta hanya berhenti di stas. Kertosono - Madiun – Solo dan Jogjakarta. Sehingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.30 ketika memasuki stas.Tugu Jogja.

Berangkat tepat saat perayaan Idul Adha membuatku tidak bisa menikmati masakan daging kurban pada Idul Adha tahun ini, berganti dgn sensasi menjadi seorang Lonely Backpacker menjelajah Jogja. Sekitar pukul 3 sore kereta Sancaka tepat meninggalkan stas. Gubeng menuju Stas. Tugu dengan jarak tempuh sekitar 300 km yg memerlukan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Kondisi stasiun antara Surabaya hingga Jogjakarta terlihat ramai mengingat saat ini awal dari libur akhir tahun yg cukup panjang. Kereta hanya berhenti di stas. Kertosono - Madiun – Solo dan Jogjakarta. Sehingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.30 ketika memasuki stas.Tugu Jogja.
Turun dari kereta aku langsung menuju utara stas. Tugu yg terkenal dengan angkringan Mbah Man dan Mas No’ yg tersohor di kalangan kaum muda Jogja. Segelas kopi jos (kopi hitam dgn tambahan arang panas membara) menjadi semacam welcome drink di Jogja yg terasa dingin akibat baru saja diguyur hujan. Untuk makan malam dua bungkus nasi kucing beserta jajanan pendampingnya sudah cukup mengenyangkan perut ini. Cerita Mbah Man tentang kunjungan seorang jenderal asli Jogja beberapa menit yg lalu sedikit menggambarkan karakter masy. Jogja yg humanis. Jarang ada petinggi negara bersedia mampir ke tempat sederhana yg hanya menyediakan alas tikar dengan mak./min. seadanya, salah satunya bisa kita temui klo berkunjung di jogja.
Rencana awal dari angkringan langsung hunting hotel di sekitar sosrowijayan yg terkenal dengan hotel backpackernya yg cukup beragam. Namun hujan deras keburu mengguyur jogja malam itu, menjadikan acara hunting hotel terpaksa di cancel mengingat penderitaan yg terbayang ketika harus keluar masuk hotel di tengah hujan deras mencari kamar di saat peak season seperti ini. Sempat berpikir dua kali (krn teringat seorang teman yg harus merelakan tas ranselnya raib saat tertidur di stas.ini beberapa tahun yg lalu) ketika akhirnya memutuskan bermalam di stas. Tugu. Kondisi stas. yg tidak terlalu ramai ketika tengah malam itu justru menjadikan acara berbaring di bangku stasiun tidak cukup menggangu pengguna jasa yg lain. Diantara penumpang kereta yg akan pergi maupun baru datang di Jogja, seorang lonely backpacker berbaring seorang diri berteman bangku stasiun yg semakin terasa dingin dan sunyi menunggu datangnya pagi untuk memulai hari2 petualangannya.
Labels: backpacker, jogjakarta




0 Comments:
Post a Comment
<< Home