Saturday, December 29, 2007

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)

DAY 3 : Menuju Selatan Menanti Ganasnya Ombak Laut Selatan

Diantara penantian menunggu tersajinya breakfast dari hotel sekitar pukul 07.00, aku pergunakan untuk bertanya seputar rute yg harus ditempuh untuk menuju pantai parangtritis. Ternyata tranportasi dari downtown jogja cukup mudah. Dari malioboro aku cuman perlu naik bis kota nomor 2 turun di Pojok Benteng Wetan. Disitu sudah menunggu bis yg langsung menuju pantai parangtritis. Satu2nya yg perlu diperhatikan hanya tranportasi umum tersebut hanya beroperasi sampai pukul 17.00. Sehingga kalau sampai kemalaman di pantai Parangtritis resiko terburuknya terpaksa menginap di sekitar pantai (yg jg tdk menjadi masalah krn di parangtritis tersedia cukup banyak penginapan seadanya).

Tepat pukul 07.30 aku sudah berada di dalam bis kota nomor 2 yg melaju pelan tapi pasti sesuai motto yg populer di Jawa “alon2 waton kelakon”. Ketika sedang menunggu berangkatnya bis yg akan mengantarku ke Parangtritis, kebetulan sekali aku bertemu sesama backpacker asal LubukLinggau Sumatera. Seorang pemuda berusia kurang lebih sebaya denganku yg bernama Satriya Atmanegara. Selama perjalanan kami saling berbagi cerita perjalanan masing2 sehingga perjalanan sejam terasa cukup singkat. Aku pun menawarkan join travelling selama satu hari ini mengingat rute kita yg sama. Dia jg mengundangku untuk berkunjung ke tempatnya bila suatu saat travelling di sekitar Palembang, Riau, Bengkulu dan sekitarnya (Soon ,I’ll be there. Just wait for that time).

Paris (sebutan orang Jogja bagi pantai parangtritis-red) ramai dikunjungi wisatawan local dari luar Jogja. Beberapa klub motor terlihat bergerombol disana sini menikmati angin pantai yg bertiup kencang. Berbeda dgn di Jogja yg cuacanya mendung, di Parangtritis matahari bersinar dengan cukup teriknya. Terlihat jelas gelombang air laut samudera Hindia yg terkenal ganas berkejaran tanpa henti. Beberapa ratus meter dari bibir pantai sisa2 gempa msh cukup jelas terlihat dari sisa2 bangunan yg tinggal menyisakan pondasinya saja. Pantai parangtritis yg dibatasi dinding tebing di tepinya seakan menjadi saksi bisu ketika gempa bumi yg cukup dashyat melanda Bantul dan sekitarnya. Gempa yg berkekuatan 6,3 skala ritcher bahkan mampu menjangkau keraton Jogja yg menyebabkan rusaknya beberapa bangunan indah keraton. Di tempat ini aku belajar bahwa keangkuhan manusia tidak ada apa2nya dibandingkan kekuatan alam. Manusia tidak akan pernah menang melawan alam. Teringat syair penuh makna yg kudengar pertama kali ketika awal2 menjadi penggiat olahraga alam bebas.
"Aku percaya bahwa alam beserta segala keindahannya merupakan sahabat yg paling baik bagi manusia. Aku percaya bahwasanya manusia tak pernah bisa mengalahkan alam. Oleh karena itu pecinta alam sejati hanya berusaha mengalahkan dirinya sendiri."


Dalam perjalanan kembali ke hotel aku sempatkan untuk mampir ke daerah prawirotaman. Nama jalan yg terkenal bagi kalangan hippies backpacker asing tahun 80-an ini menarik minatku untuk sekedar mengetahui lebih jauh. Info yg aku peroleh menyarankan untuk mendatangi sebuah café legendaris bagi kaum backpacker bernama via-via café Suasana di dalam café tersebut cukup comfy, tidak terlalu besar tapi style-nya yg bohemian membuat betah para pengunjung. Via-via café jg berdiri di beberapa negara lain seperti argentina, spain, senegal dll. Café ini menjunjung cita rasa daerah dimana dia berada, ini dimaksudkan agar nuansa asli daerah tidak berubah seiring datangnya kaum pendatang. Semboyannya cukup menggelitik “di via-via kita tdk akan menemukan satu cita rasa yg sama karena via-via adalah bukan Mc-Viavia”.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

<!-- End #content -->