Saturday, December 29, 2007

MENGUAK TABIR MISTERI JOGJAKARTA (poros gunung merapi-keraton-laut selatan)


DAY 4 : Nafas Gunung Api Bumi Merapi

Dibalik ancaman letusannya, Gunung Merapi menyimpan keindahan yang tak terkira bagi siapa saja yang melihatnya. Cara terbaik untuk mengenal gunung ini sebenarnya dengan melakukan pendakian ke puncak Garuda yg berada di ketinggian 2948 mdpl. Namun kesempatan yang kudapatkan saat ini baru sekedar memandangnya dari pos pengamatan yg terletak di Ketep Pass. Tempat wisata yg diresmikan tahun 2002 ini memiliki fasilitas yg cukup lengkap untuik mengenal gunung Merapi. Di sana berdiri bangunan museum, theater yg bercerita tentang Merapi dan beberapa gardu pandang lengkap dengan teropong untuk melihat tubuh merapi.
Dari hotel naik bis kota nomor 5 turun di terminal Jombor. Dilanjutkan naik bis jurusan Magelang lalu turun di daerah Blabak untuk berganti dengan mobil angkutan menuju Sawangan. Dari Sawangan ini sudah menunggu angkot menuju Ketep Pass. Apabila perjalanan lancar tidak lebih dari 2 jam berangkat dari Malioboro kita sudah sampai di KetepPAss. Sebisa mungkin usahakan datang pada pagi hari agar view gunung merapi dapat terlihat jelas dan tidak terhalang kabut.
Kekagumanku akan gunung Merapi semakin bertambah ketika menyaksikan dokumentari letusan dahsyat Merapi. Sebuah ironi kehidupan tergambar nyata bagi warga sekitar lereng merapi. Batuan panas yg dimuntahkan dari perut merapi dan asap beracun yang keluar dari kawah (Wedhus Gembel) pada saat Gunung Merapi meletus tidak jarang memakan korban jiwa manusia. Namun setelah melewati masa erupsi dan merapi kembali normal, letusan tsb membawa berkah berupa tanah yg subur yg menjadi ladang pencaharian warga.Nafas merapi tidak lain adalah nafas kehidupan masyarakatnya. Sekali lagi bukti kebesaran Tuhan yg telah menganugerahkan alam bagi manusia.
Berbicara masalah kebesaran dan keagungan, tepat kiranya bila perjalanan aku akhiri di sebuah bangunan mahakarya agung yg pernah dibuat manusia. Candi Borobudur yg terletak tidak jauh dari KetepPass merupakan cerminan bangsa kita yg religius. Bangunan ini terasa special bila dibandingkan dengan bangunan sejenis seperti Piramida Mesir dan Great Wall China. Dilihat dari aspek sosiologis pembangunan Borobudur memiliki perbedaan dengan dua bangunan tsb. Piramida Mesir didirikan hanya untuk memfasilitasi Firaun dan harta2nya shg seolah manusia yg terlibat hanyalah budak penguasa yg dipaksa bekerja menuruti keinginan raja. Sementara tembok besar China tidak lain adalah system pertahanan negara dari suatu strategi militer semata, sebuah latar belakang yg pragmatis akibat suatu kondisi perang. Inilah yg menyebabkan Borobudur sebuah bangunan yg luar biasa karena didirikan sebagai bentuk pemujaan kepada Tuhannya sehingga nuansanya lebih kepada keikhlasan dibanding keterpaksaan.

Di Borobudur pula backpacking-ku di Jogja berakhir dengan perasaan senang telah mengenal lebih dekat masyarakat yang bersahabat dengan alam. Target yg belum kesampaian diantaranya wisata kuliner ala jalan sutranya Pak Bondan ke resto Omah Dhuwur dan Sekar Kedaton Anshor Silver mengingat terbatasnya budget kali ini hehehe(next time,I wish)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

<!-- End #content -->